Tantangan dan Potensi Fintech di Era Baru | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments

Tantangan dan Potensi Fintech di Era Baru

Tantangan dan Potensi Fintech di Era Baru

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Dengan adanya financial teknologi (fintech) membuat semua orang terutama milennial menjadi lebih mudah dalam memanfaatkan uangnya. Sifatnya yang cashless, dapat melakukan transaksi di manapun karena hanya mengandalkan smartphone dan banjir promo ‘tentunya’, menjadi alasan terkuat peminatnya semakin melesat.

Stok uang di dompet Luviresy, pekerja kantoran, sekaligus fotografer ini semakin menipis, bukan karena tidak ada uang. Hanya saja ia lebih memilih mengkonversi dana yang dimiliki ke dompet digital. Alasannya cukup simpel, memudahkan melakukan pembayaran, berikut juga memanfaatkan segala tawaran menguntungkan di dalamnya.

“Jadi sekarang dana bulanan untuk konsumsi dan transportasi ke kantor itu saya simpan di dompet digital (OVO dan Gopay). Bayar jadi lewat aplikasi gitu, enggak perlu pusing menyiapkan ongkos pas membayar transportasi, makan pun juga demikian malah suka ada promo jadi sering merasa lebih irit dalam pengeluaran,” terangnya.

Sisi positif lainnya melalui dompet digital, juga secara perlahan mengedukasi masyarakat dalam pemanfaatan uang, contoh anggaran yang terpilah membuat Luvi menjadi lebih fokus menabung.

“Dulu kan semua dana campur jadi satu ATM, sehingga secara pengeluaran suka kebablasan. Ketika dipilah ke dompet digital jadi lebih tertata secara pengeluaran karena seperti ada pos anggaran per bulan gitu,” lanjutnya. Luvi merupakan satu diantara banyak generasi milennial yang memiliki kebiasaan menggunakan alat pembayaran digital . Dan secara pola pun pemanfaatan tidak jauh berbeda.

Menurut studi yang bertajuk Ipsos Marketing Summit 2020: Indonesia The Next Cashless Society, yang melibatkan 1.000 responden berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara, menyebutkan pertumbuhan serta pemanfaatan fintech tumbuh sangat positif. “Menurut data dari BI, selama 2019 saja telah terjadi 4,7 juta jumlah transaksi cashless dan 128 triliun rupiah volume transaksi cashless di lndonesia, itu artinya evolusi pembayaran sudah terjadi dengan pesatnya,” jelas Soeprapto Tan, Managing Director Ipsos Indonesia, pada Koran Jakarta di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, belum lama ini.

Hasil studi ini menunjukkan hanya 21 persen konsumen yang hanya menggunakan satu jenis dompet digital saja, sementara 28 persen mengaku menggunakan dua jenis, dan 47 persen lainnya menggunakan tiga jenis atau lebih.

Dompet digital yang paling sering digunakan ialah OVO, Gopay dan Dana. Survei yang menyasar masyarakat dalam menggunakan kartu non tunai, terungkap e-money dan Flazz merupakan kartu yang paling sering digunakan dalam bertransaksi, di mana sebanyak 47 persen hanya memiliki satu kartu, 30 persen memiliki dua kartu dan 23 persen memiliki tiga atau lebih kartu non tunai.

Secara penggunaan dompet digital ini dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan berbagai transaksi keuangan, seperti berbelanja online, membayar tagihan listrik, makanan di restoran, penggunaan alat transportasi, menonton bioskop, dan berbagai layanan perbankan digital.

“Dari hasil studi tersebut terlihat bahwa masyarakat kita saat ini sudah mulai terbiasa dengan pembayaran non-tunai dalam kehidupan mereka sehari-harinya dengan berbagai motivasi di balik penggunaannya.

Ke depannya diprediksi jumlah pengguna layanan ini akan semakin melesat, dalam hal ini harus dibarengi ekosistem yang lebih mumpuni baik dari sisi pemerintah, infrastruktur dan swasta,” papar Soeprapto.

Saatnya Kolaborasi Di samping industri fintech yang diprediksi akan terus tumbuh, regulator hingga pelaku kini juga harus memikirkan pengembangan infrastruktur dan regulasinya.

Khususnya untuk yang dapat memberikan proteksi kepada pengguna, ini penting dilakukan agar jangan sampai kepercayaan konsumen terhadap fintech tercederai, bahkan luntur.

Gap modern dan tradisionil di era industri 4.0 pun juga sudah saatnya diminimalisir, pengamat ekonomi Yustinnus Prastowo pun melihat saat ini perbankan dan fintech bisa berkolaborasi.

Oleh sebab itu, pemerintah juga harus lincah. Kalau dulu mereka hanya menjadi regulator yang sedikit-dikit membuat aturan yang kadang malah menghambat, sekarang tidak bisa hanya sekadar menjadi regulator, dan tidak cukup hanya menjadi fasilitator yang memberikan kemudahan.

“Pemerintah harus menjadi aktor yang ikut bermain serta akselerator bagaimana mempercepat dengan kebijakan yang lebih lincah dan dinamis serta menciptakan ekosistem dan lingkungan yang baik. BI, OJK, serta Kemenkeu penting untuk bersinergi sehingga tiga pilar tersebut dapat bergerak dan berinteraksi dengan baik,” jelas Yustinus.

Selain itu edukasi masyarakat mengenai penggunaan pembayaran digital juga perlu dibangun. Tidak dipungkiri bahwa transaksi keuangan digital ini masih diwarnai dengan berbagai kasus kejahatan, dan semua masih bermuara pada minimnya pengetahuan masyarakat mengenai pembayaran digital dan keamanan data pribadi.

Hal ini menjadi sangat penting, karena membangun trust di industri fintech ini juga perlu didukung secara bersama. Terlebih ini sejalan dengan tantangan yang harus ditempuh pada 2020, yaitu bagaimana agar dapat lebih memasyarakatkan kembali konsep cashless.

Konsep cashless di Tanah Air masih berada di tahap early stage yaitu masih menggunakan dua transaksi, yaitu tunai dan digital, sedangkan untuk tahapan mature, yakni semuanya sudah total transaksi digital.

Perkembangan digital payment masih terkonsentrasi di Jawa. “Untuk memperkuat konsep cashless ini, regulasi harus disempurnakan meski ada sejumlah aturan basic yang sudah mencoba memproteksi. Namun, karena masih tahapan early stage, evolusi regulasi dan jaringan masih terus berkembang,” papar Soeprapto.

Sudah Menjadi Solusi

Transaksi keuangan dengan pembayaran digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat positif, sebab masyarakat mampu beradaptasi terhadap perubahan pola pembayaran yang tidak lagi menggunakan uang tunai.

LinkAja menyoroti pola masyarakat yang kini beralih menggunakan transaksi digital juga bisa disimpulkan bahwa masyarakat saat ini sudah memahami manfaat yang diperoleh dari transaksi digital.

“Ketika masyarakat sadar ada value itu, hal ini menjadi penting dan bisa membawa perubahan permanen ke depan,” ujar Marketing Director LinkAja Edward Kilian Suwignyo. Edward melihat setidaknya ada dua hal yang memotivasi seseorang beralih dari tunai menjadi menggunakan transaksi digital.

Pertama, pilihan alternatif. Konsumen melihatnya sebagai kebutuhan jangka pendek. Konsumen menggunakan transaksi digital karena tergiur promo. Misalnya, potongan harga dan cashback.

Kedua, transaksi digital sudah menjadi solusi yang dianggap aman bagi konsumen. “Keamanan dan kemudahaan dari dompet digital memperkuat motif menjadi solusi masyarakat untuk bertransaksi.

Kini masyarakat bisa bertransaksi darimana saja, sehingga dengan teknologi baru ini bisa membangun pertumbuhan ekonomi dengan kenaikan inklusi keuangan,” tandas Edward.  ima/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment