Koran Jakarta | November 19 2017
No Comments

Ternyata Pabrik Dusta Itu Ada

Ternyata Pabrik Dusta Itu Ada

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Ternyata, pabrik dusta itu benar-benar ada, dan menyebarkan sesuai dengan pesanan. Ternyata, sampah fitnah itu berlimpah, merambah ke segala arah.

Ternyata juga, makian, kebenciaan, hujatan, kepalsuan, bisa bersliweran sampai dengan 800.000 kali. Bisa menghancurkan sasaran nama perorangan, organisasi, instansi, atau program. Mengerikan memang, karena untuk melakukan kebohongan itu tinggal memesan dan membayar.


Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara RI mengungkapkan bahwa sindikat pembuat dan penyebar kabar palsu atau dusta berhasil dibongkar.

Kelompok yang menamakan diri Saracen ini memiliki 800.000 akun palsu yang siap menyebarkan hoaks. ( Agaknya dari segi bahasa kita menerima penulisan kata hoaks dari hoax, sebagaimana kita menuliskan taksi pengganti taxi).

Dengan jual-beli berita palsu, ulasan provokatif dari seluruh wilayah di negeri ini, dan bisa tertuju kepada siapa pun—yang bahkan tak mengetahui menjadi sasaran tembak.


Ternyata memang ada “dusta di antara kita”. Dalam media sosial hal itu biasa terjadi. Seseorang yang punya nama—dilihat dari jumlah pengikut akunnya, bisa dibayar kalau ia menyebut merek dagang tertentu, atau memberi masukan suatu produk.

Ini yang lazim terjadi. Sebaliknya juga ada akun yang anonymous, yang no name, yang tak mencantumkan jati diri sebenarnya. Yang bisa memuji, mencela, atau biasa-biasa seperti juga akun yang memakai nama diri.

Artinya, bisa menjadi bersikap bagaimana. Yang mengejutkan, meskipun bisa diperkirakan, adalah untuk fitnah ini ada sindikasinya, ada pabriknya, ada organisasinya. Bahkan dari cara kerja yang terungkap, kelompok Saracen ini memberikan proposal kasus-kasus yang dijalani, contoh bentuk dusta atau fitnah, serta ongkosnya.


Dengan anak-anak usaha yang diberi nama Saracen, kelompok ini bahkan melakukan “spesifikasi” untuk, misalnya, memojokkan umat beragama Islam, atau Nasrani, atau kelompok lain.

Kini, syukurlah, sindikasi ini terungkap. Tiga nama pengelola telah ditangkap. Tinggal ditunggu bagaimana kelanjutnya. Apakah juga akan diungkap siapa-siapa pemesan fitnah, organisasi mana minta menyerang organisai masyarakat yang mana, dan mungkin juga seberapa jauh tingkat keberhasilan—atau kegagalannya.


Saracen—tak ada hubungannya dengan kata SARA, walau itu yang dibisniskan, terhentikan kegiatannya. Beberapa warganet, netizen, bahkan bisa menandai bahwa minggu-minggu terakhir ini, lalu lintas di medsos relatif tidak mendidih. Bisa jadi karena 800.000 akun robotik sedang tiarap. Tak berani ngetwit.


Itu ada benarnya. Namun, tidak berarti pabrik dusta tak ada lagi. Sampah fitnah tak melimpah lagi. Bisnis yang membutuhkan ucapan dan ungkapan—dalam bentuk meme, atau foto diedit—kebencian masih ada yang memerlukan.

Terutama juga karena masyarakat ini secara luas masih bisa dan akan kena dipengaruhi. Bahkan, bisa dipastikan produk yang dihasilkan akan semakin brutal, kabar yang dihasilkan semakin kasar, dan juga akan semakin masif. Kemudahan teknologi komunikasi yang terus berkembang dan makin mudah sekaligus makin menyebar, akan dimanfaatkan maksimal.


Makna dari terkuaknya pabrik dusta ini adalah bahwa upaya literasi digital harus diteruskan. Upaya agar masyarakat “melek digital” menjadi utama untuk menghadirkan ketahanan. Karena segala hal yang positif bisa menjadi negatif kalau difitnahkan, diberitakan secara berlawanan.


Untuk bisa “melek digital”, menjadi efektif mana kala warganet dengan semua pengikutnya, dengan semua kegiatannya, mengingatkan terus bahaya –mungkin juga ciri-ciri kedustaan dalam arti yang luas.


Tak bisa lain, karena dusta tak mati sepenuhnya walau diperangi berkali-kali.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment