Tingkatkan Produk Bernilai Tambah dan Berdaya Saing | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Benahi Neraca Perdagangan - Prioritas Tarik Investasi dari Perusahaan Global

Tingkatkan Produk Bernilai Tambah dan Berdaya Saing

Tingkatkan Produk Bernilai Tambah dan Berdaya Saing

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
Sumber: BPS – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font
Pacu investasi untuk memperkuat sektor manufaktur guna meningkatkan kinerja ekspor agar surplus perdagangan lebih berkualitas.

JAKARTA – Pemerintah mesti segera membenahi neraca perdagangan agar tercipta surplus yang sehat, didukung oleh kenaikan ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan laju impor. Untuk itu, produktivitas produk industri yang bernilai tambah dan berdaya saing global perlu dipacu. Ini diperlukan untuk menopang perbaikan kinerja ekspor yang dalam setahun terakhir cenderung menurun.

Pengamat ekonomi Indef, Ahmad Heri Firdaus, mengemukakan untuk menciptakan surplus perdagangan yang sehat, pemerintah harus memacu kinerja ekspor, antara lain dengan membuka kran investasi selebar mungkin guna menopang pertumbuhan industri manufaktur. “Karena hal itulah yang akan menciptakan produk-produk industri bernilai tambah dan berdaya saing global, sehingga mendukung kenaikan kinerja ekspor,” jelas dia, di Jakarta, Minggu (17/11).

Sebelumnya dikabarkan, sejumlah kalangan menilai surplus neraca perdagangan Oktober 2019 sebesar 161,3 juta dollar AS, tidak berkualitas. Alasannya, surplus tersebut terjadi bukan karena kenaikan kemampuan perdagangan Indonesia, tetapi disebabkan penurunan kinerja ekspor maupun impor. Penurunan impor lebih tajam ketimbang penurunan ekspor.

“Surplus yang sehat itu ialah ketika ekspor dan impor sama-sama naik, tetapi laju kenaikan ekspor lebih tinggi dari impor, khususnya impor bahan baku. Lebih bagus lagi kalau ekspor tumbuh sementara impornya turun,” ujar Heri.

Oleh karena itu, surplus yang terjadi di tengah- tengah penurunan kinerja ekspor mengandung risiko ke depan. Sebab, ekspor Indonesia yang masih mengandalkan komoditas, seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO), menjadi rentan terhadap pergerakan harga.

Dengan demikian, mendorong investasi untuk mengembangkan sektor manufaktur agar mampu meningkatkan produktivitas barang bernilai tambah dan berdaya saing global untuk mengangkat ekspor nonmigas menjadi sangat penting. “Investasi ini harus dikeroyok bersama tidak bisa dibebankan pada satu kementerian saja.

Menko Perekonomian harus punya wewenang lebih kuat untuk mengoordinasikan dan mengharmonisasi kementerian terkait,” tukas Heri. Selama era reformasi, kontribusi industri terhadap perekonomian nasional cenderung turun, dan kini hanya sekitar 19 persen. Padahal, sebelumnya pernah menyentuh 29 persen. “Untuk itu perbanyak investasi, hasilkan produk industri sebanyak mungkin untuk pacu ekspor, sehingga surplus neraca perdagangan lebih sehat,” kata Heri.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Leo Herlambang, mengatakan untuk menekan defisit neraca perdagangan yang diprediksi terjadi pada tahun ini, pemerintah perlu mengaji ulang kebutuhan impor minyak dan gas (migas) yang sebenarnya. Sebab, selama ini impor migas menjadi komponen terbesar impor Indonesia.

“Terkadang yang diimpor banyak di luar perkiraan, maka ini membebani neraca kita. Memang migas ini harus tersedia, kalau tidak, ekonomi mandek. Maka itu harus diteliti apakah sudah sesuai dengan kebutuhan,” jelas dia.

 

Skala Global

 

Terkait investasi, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan salah satu program prioritasnya adalah menarik investasi dari perusahaan skala global. Langkah ini diyakini dapat mendongkrak kapasitas produksi sekaligus memperkuat struktur manufaktur nasional. “Kami pun mendorong agar para investor tersebut dapat menjalin mitra dengan industri di dalam negeri, termasuk sektor industri kecil dan menengah (IKM).

Upaya strategis ini diharapkan akan terjadi transfer teknologi terutama bagi investor yang telah mengadopsi industri 4.0,” papar dia. Menurut dia, selain gencar menarik investasi sektor industri padat karya, pemerintah juga aktif menggenjot pertumbuhan di sektor industri yang berorientasi ekspor dan menghasilkan produk substitusi impor.

“Ini sejalan dengan tekad pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja lebih banyak lagi dan mengurangi defisit neraca perdagangan,” imbuh dia. Agus optimistis, Indonesia masih menjadi negara tujuan utama investasi khususnya bagi sektor industri manufaktur. Potensi ini lantaran didukung dengan ketersediaan pasar yang besar dan bahan baku yang melimpah.

 

ers/SB/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment