Totalitas di Era Milenial untuk Mencapai Bahagia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
PERADA

Totalitas di Era Milenial untuk Mencapai Bahagia

Totalitas di Era Milenial untuk Mencapai Bahagia

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Suatu senja, seorang pemuda hendak naik bus. Dia mengejar bus dengan agak berlari. Celaka, saat hendak naik dan menginjakkan kaki ke pintu, sepatunya yang sebelah kiri terlepas. Bus bergerak dengan cepat. Dia pun tak mungkin memungut sepatu yang terlepas tadi. Pemuda ini dengan tenang lalu melepas sepatu yang sebelah kanan. Dia melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemudi yang sedari awal duduk dalam bus melihat kejadian itu, lalu memberanikan diri bertanya, “Aku mengamati apa yang kamu lakukan. Mengapa kau lempar keluar sepatumu yang sebelah juga?” Dengan enteng pemuda ini menjawab, “Supaya yang menemukan sepatuku bisa memakainya!” Simpel sekali.

Kehilangan bisa menghampiri siapa saja. Kehilangan, kesedihan, kegalauan bukan sebuah akhir dunia. Ketika sepatu yang sebelah terjatuh, maka sepatu yang tinggal sebelah tidak berguna. Maka dengan melemparkan ke luar jendela, berharap orang lain yang menemukan bisa memakainya. Tentu itu lebih baik. Simpel, tapi total.

Tidak satu pun urusan yang bisa mencapai hasil memuaskan bila tidak dikerjakan secara total (hal viii). Optimisme berarti menerima semua kenyataan, termasuk yang buruk dalam kehidupan. Tetapi tidak membiarkan diri larut di dalamnya, sehingga terus berusaha mencari sisi terang di setiap kegelapan (hal 149).

Buku ini memang memotret pernakpernik zaman milenial yang sarat manusia galau, aneh, populis bernuansa religius, dan perebutan kenikmatan diri. Ada juga sejuta problem sosial, budaya, ekonomi dan politik yang ruwet. Kisah-kisah yang dihadirkan juga sangat aktual dan keseharian. Buku mengusung tema totalitas dan eksponensial dalam konteks kehidupan era milenial.

Problem manusia era revolusi industri 4.0, teknologi silikon dan neuron dengan dimensi-dimensi produktivitasnya yang tak terbayangkan sebelumnya sekaligus menakjubkan. Benang merah semua kisah buku dirajut dengan penekanan ibadah dan prasangka baik kepada Tuhan. Totalitas ibadah salat dhuha sebagai titik tekannya.

Kenapa dhuha? Tak lain karena menandai awal kesibukan manusia sehari-hari, bergerak dan beraktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan menjalankan misi hidupnya. Waktu dhuha adalah momentum pembuka hari, tentu tanpa mengabaikan subuh sebagai ibadah fardu.

Doa mengiringi keberangkatan anak-anak ke sekolah, keberangkatan para suami ke tempat kerja, dan menemani aktivitas istri di rumah agar semua anggota keluarga dihindarkan dari segala musibah (hal 29). Karena, pada akhirnya, hidup mengajarkan tentang yang penting, yaitu keluarga (hal 185).

Yang terasa kurang dari buku ini barangkali terlalu pendeknya pembahasan di tiap judul. Padahal, sangat memungkinkan untuk dieksplorasi lebih luas lagi. Namun, yang menarik, selain ringan dan menginspirasi, pembahasannya tidak monoton. Ini mencerminkan keluasan wawasan penulis. Karena disadari atau tidak, itu menuntut pengetahuan lintas disiplin ilmu yang cukup memadai.

Penulis mampu menyampaikan pesan-pesan moral keagamaan melalui aneka ragam kisah bisnis, inovasi sains, dan teknologi. Buku ini juga kaya data dan informasi faktual menyangkut tokoh-tokoh dunia serta peristiwa lintas dunia.

 

Diresensi Ahmad Fauzi Mei, Mahasiswa Doktoral UIN Surabaya

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment