Koran Jakarta | December 11 2017
No Comments

Transformasi Desain Kursi Berbahan Kayu

Transformasi Desain Kursi Berbahan Kayu

Foto : ISTIMEWA
Bahan sintetis atau plastik untuk kursi tidak menghilangkan kesan alami.
A   A   A   Pengaturan Font

Kursi berbahan kayu tidak selama menampilkan nuansa klasik yang kental. 

Dengan trasformasi desain, membuat kursi mampu  menyatu dengan beragam jenis interior ruang bahkan terkesan lebih elegan.

Kursi menjadi perabot yang tidak bisa ditinggalkan dalam sebuah ruang. 

Keberadaannya sebagai tempat duduk selalu diperlukan, baik ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan bahkan kamar tidur. Terlebih di ruang publik semacam hotel maupun bandara, kursi menjadi  bagian interior untuk “menjamu” tamu maupun penumpang.

Bahan kayu justru memiliki nilai jual lebih tinggi. Di tengah makin merebaknya, kursi yang terbuat dari bahan sintetis maupun plastik, bahan kayu membuat kursi tidak kehilangan nilai alami. 

Hal tersebutlah yang dimanfaatkan sejumlah produsen kursi. Konsep go green yang tengah di agunng-agungkan dalam dunia interior maupun arsitektur menjadi panutan dalam membuat benda interior.

Seperti yang dilakukan Kayou, sebuah label furnitur berbahan kayu dan kulit. Label tersebut membuat furnitur dari bahan yang semua cenderung alami untuk sesuai dengan konsep desain yang tengah berkembang.

Kursi berbahan kayu solid berbentuk menyerupai kotak dengan sandaran dan pegangan tangan yang lebih langsing. Sehingga kursi menyisakan ruang-ruang kosong di bagian sisa kiri, kanan maupun belakang. 

Warna sengaja dibiarkan menyerupai warna kayu. Beberapa koleksi dibuat dengan warna yang lebih putih dengan mematikan warna asli melalui zat kimiawi. “Ini bentuknya kontemporer minimalis,” ujar Theo Sakti Wijaya, kepala desainer Kayou yang ditemui di pameran Casa Indonesia 2017, belum lama ini. 

Namun, ia menggaris bawahi produk yang baru diluncurkan pada pameran sebelumnya  lebih cenderung memiliki konsep kontemporer. “Kalau minimalis takutnya lebih ke Italian, kalau ini (produknya) lebih universal, Asian masuk, Eropa masuk,” ujar dia.

Dalam membuat kursi, Theo dan timnya menggunakan ukuran standar Internasional , yaitu tinggi kursi sekitar 45 sampai 50 sentimeter sedangkan kedalaman kursi menggunakan ukuran yang sedikit lebih besar, yaitu 45 sampai 55 sentimeter. 

Ukuran tersebut tidak lain agar kursi dapat digunakan oleh orang Eropa maupun Timur Tengah yang memiliki ukuran tubuh lebih besar ketimbang orang Asia. Sedangkan kayu yang digunakan antara lain berupa kayu jati dan sonokeling. 

Dalam Casa Indonesia 2017, kursi yang terbuat dari kayu Sonokeling termasuk limited edition. Pasalnya, tahun depan pemerintah melarang penebangan kayu tersebut.

Sementara, Eduardus Tri Aryo W mengandalkan rotan sebagai bahan baku. Bagi direktur desain Vindo Design, konsultan arsitektur dan desain interior rotan tidak sebatas bahan kerajinan yang memiliki nilai jual terbatas.

”Orang beranggapan kursi rotan itu murah karena gampang rusak, padahal itu (kualitas) tergantung craftsmanshipnya,” ujar dia. Untuk meningkatkan kualitas, rotan direbus dulu baru di open dengan suhu tertentu. Dengan tukang yang sudah pengalaman, kursi dapat dibuat dalam waktu satu minggu.  

Salah satu desain kursi karyanya orang yang duduk di atas kursi tersebut seolah-olah tengah dipeluk bunga. Sandaran kursi yang menyatu dengan sadaran tangan membuat bagian tubuh tertutup. Kursi yang dibanderol 4,5 juta rupiah menjadi paduan interior untuk memberikan titik fokus di bagian lounge, ruang tamu maupun hotel.

Untuk pengerjaannya, Eduardus menyerahkan pada vendor yang berada di Cirebon, termasuk bahan bakunya. Selama 10 tahun mengajak konsultan desain interior dan arsitektur. Dia menjajal membuat kursi, tiga tahun belakangan. 

Dia membidik pangsa pasar dalam negeri yang tergolong masih luas. Terutama dengan makin bertumbuhnya, ruang-ruang komersial di sejumlah kota. din/E-6

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment