Koran Jakarta | August 25 2019
No Comments

Transformasi Ekonomi

Transformasi Ekonomi

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

dr haryo kuncoro, se, msi

Dua momen penting di bi­dang eko­nomi ter­jadi di awal Agustus dengan rentang waktu yang berdekatan. BPS (5/8) merilis kinerja perekonomian nasional selama triwulan ke­dua 2019 dan seminar nasional dalam rangka perayaan ulang tahun Kementerian Koordina­tor Perekonomian ke-53 pekan lalu (9/8). Seminar mengambil tema Transformasi Ekonomi untuk Indonesia Maju. Misi utamanya, mencari cara mem­bebaskan Indonesia dari je­bakan negara berpenghasilan menengah.

Benang merah keduanya, kesadaran bersama untuk me­respons kinerja perekonomian nasional selama empat tahun terakhir. Pada triwulan kedua 2019, misalnya, ekonomi ha­nya tumbuh 5,05 persen. Ini melambat dibanding periode sama tahun lalu yang mampu tumbuh 5,27 persen.

Sinyal perlambatan eko­nomi agaknya juga terpancar dari performa pertumbuh­an kuartalan. Selama periode sama, ekonomi Indonesia ha­nya meningkat 4,2 persen dari triwulan pertama 2019. Angka ini nyaris sama dengan per­tumbuhan ekonomi kuartal ke­dua tahun lalu (4,21 persen).

Pertumbuhan sektor indus­tri manufaktur yang dominan terhadap PDB, 19,52 persen tercatat hanya 3,54 persen. Angka ini pun melambat dari periode sama tahun lalu 3,88 persen. Kedua angka pertum­buhan tersebut juga masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Proses deindustrial­isasi sudah menggejala.

Komparasi dengan data mikro sepertinya tidak meng­ubah kesimpulan awal. Survei Konsumen Bank Indonesia Juli 2019 menunjukkan indeks keyakinan konsumen (IKK) berada di 124,8. Akan tetapi, IKK tersebut masih lebih ren­dah dari bulan sebelumnya 126,4.

Persoalan stagnasi ekonomi tidak berhenti di situ. Indeks penjualan riil (IPR) Juni 2019 menurun 1,8 persen dari bulan sebelumnya 7,7 persen. Cela­kanya lagi, penurunan terjadi pada komoditas leissure (kelompok ba­rang budaya dan re­kreasi) yang diklaim sebagai representasi penggeliatan eko­nomi.

Sehimpun fakta tadi mengindikasikan be­lum ada perubahan substan­sial dalam dinamika pereko­nomian nasional. Tanda-tanda pergeseran struktur ekonomi baik secara absolut mau­pun relatif tidak tampak. Al­hasil, angka pertumbuhan ekonomi 5 persen dipan­dang sebagai pertumbuhan alami (natural growth).

Stagnasi ekonomi meng­indikasikan secara implisit tidak ada sektor yang men­jadi penggerak utama dalam mendorong pertumbuh­an. Artinya, perekonomian terkesan bergerak sendiri secara apa adanya tanpa pi­lot yang mampu memberi arahan ke mana dan bagai­mana ekonomi mesti ber­gerak. Istilah populernya business as usual.

Kecenderungan ini tentu saja memprihatinkan. Pen­ciptaan kesempatan kerja dan penurunan jumlah pen­duduk miskin tidak mate­rial. Pertumbuhan ekonomi yang di bawah ekspektasi juga terbukti menyebabkan rasio current account defi­cit (CAD) pada periode yang sama membengkak hingga 3 persen dari PDB.

Tesis perekonomian autopi­lot tampaknya semakin mende­kati kenyataan. Peran pemerin­tah yang digadang bisa menjadi pionir pertumbuhan agaknya masih jauh panggang dari api. Efektivitas belanja negara da­lam menyokong pertumbuhan ekonomi relatif lemah lantaran kualitas belanja yang rendah.

Paket kebijakan yang sudah sampai pada seri ke-16 tidak “nendang” menggerakkan eks­por. Demikian pula, sejumlah insentif fiskal yang ditawarkan pemerintah tidak menarik ba­nyak minat pelaku bisnis untuk menanamkan modalnya. Alha­sil, kebijakan ekonomi berefek sangat lamban.

Imbas jangka panjang­nya, jebakan negara berpeng­hasilan menengah (middle income trap) menjadi semakin panjang. Dengan pertumbuh­an ekonomi 6 persen saja per tahun, Indonesia akan keluar dari jebakan negara berpeng­hasilan menengah pada 2040. Dengan demikian, pertumbuh­an ekonomi ke depan dituntut lebih tinggi lagi.

Tuntutan untuk tumbuh akan semakin berat. Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok memunculkan ke­khawatiran pelemahan aliran perdagangan dari dan ke dua negara adi daya ekonomi dunia tersebut. Akibatnya, pertum­buhan ekonomi semua mitra dagang akan tertekan yang ber­imbas pada kinerja ekonomi Indonesia.

Radikal

Dengan alur logika ini, tam­paknya kebijakan yang radikal diperlukan untuk mentrans­formasi ekonomi Indonesia. Mengikuti Rosenstein-Rodan (1943), dorongan yang besar dibutuhkan untuk mengatasi ketertinggalan dengan meman­faatkan jaringan kerja melalui skala kehematan dan cakupan (economies of scale and scope).

Peluang itu bisa diletakkan pada industri pengolahan. Ta­bel Input-Output menunjukkan indeks daya penyebaran indus­tri pengolahan sebesar 1,09. Artinya, kenaikan permintaan akhir satu persen akan mening­katkan pertumbuhan industri penghasil input penyokongnya sebesar 1,09 persen.

Relatif kuatnya daya du­kung industri pengolahan dikonfirmasi dari tingginya indeks daya kepekaan industri pengolahan (1,75). Kenaikan permintaan akhir satu persen akan meningkatkan pertum­buhan industri turunannya se­besar 1,75 persen. Intinya, me­kanisme multiplier effect lintas sektoral signifikan menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Alhasil, langkah krusial dalam jangka pendek ada­lah reindustrialisasi. Indus­tri pengolahan harus mampu memberi nilai tambah (value added) pada produk-produk sektor primer. Sejalan dengan itu, hilirisasi subsektor indus­tri manufaktur yang memiliki keterkaitan kuat ke depan (for­ward linkage) patut dijadikan prioritas.

Lebih lanjut, infrastruktur lunak (soft infrastucture) dan infrastruktur keras (hard infras­tucture) perlu dirintis bagi kon­disivitas sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi. Eko­nomi digital, ekonomi kreatif, dan pariwisata layak dijadikan sebagai icon baru ekonomi In­donesia di masa mendatang.

Ikhtiar di atas masih bisa di­gapai lewat koordinasi semua pemangku kepentingan. Na­mun, tantangan terberat trans­formasi ekonomi Indonesia sejatinya adalah mengangkat “ekonomi bawah tanah” (under­ground economy) ke permukaan sehingga menjadi ekonomi riil. Potensi ekonomi bawah tanah ini sejatinya cukup besar.

Menurut Medina dan Sche­neider (2018), angka ekonomi bayangan (shadow economy) di Indonesia mencapai 26,6 persen terhadap PDB. Alhasil, kemampuan mentransformasi ekonomi bayangan 10 persen saja sudah mampu menaikkan angka pertumbuhan ekonomi nasional ke level 7 persen per tahun.

Pada akhirnya, kunci utama keluar dari stagnasi ekonomi adalah kemauan politik (po­litical will) pemerintah. Tanpa keberanian meramu kebijakan yang radikal, ekonomi mode autopilot tetap teraktivasi. Jika demikian, atribut negara maju yang menandai perayaan satu abad proklamasi kemerdeka­an Republik Indonesia tinggal mimpi belaka. Penulis Doktor Ilmu Eko­nomi Alumnus PPs UGM Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment