Ujian Sekolah Penentu Kelulusan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | April 4 2020
No Comments
UN Ditiadakan

Ujian Sekolah Penentu Kelulusan

Ujian Sekolah Penentu Kelulusan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Setelah ujian nasional (UN) ditidakan, ma­ka penentu kelulusan akan di­ambil dari nilai ujian sekolah (US). Pernyataan ini disampai­kan Mendikbud, Nadiem Ma­karim, di Jakarta, Rabu (25/3). Menurut Nadiem, US dilaksan­akan untuk menentukan kelu­lusan siswa. US dirancang un­tuk mendorong aktivitas belajar yang bermakna dan tidak perlu mengukur ketuntasan capaian kurikulum secara menyeluruh.

Pemerintah resmi me­niadakan UN tahun ini dengan alasan keselamatan menja­di faktor utama di tengah wa­bah pandemi Covid-19 yang terus menin­gkat. “Tidak ada yang lebih pent­ing dari keaman­an dan keseha­tan siswa,” ujar Nadiem. Dia akan mengguna­kan sebagian ang­garan untuk pen­anganan penya­kit Covid-19 di sekolah-sekolah. Menu­rutnya, masih ada dana UN yang tidak digunakan.

Selain dana UN, Kemendik­bud juga melakukan realokasi anggaran dari kegiatan-keg­iatan lain untuk penangan­an Covid-19. Adapun hal-hal berkaitan penanganan terse­but di antaranya mendukung program relawan dan pembe­lajaran online atau daring. Ia menambahkan, sebagian ang­garan akan digunakan untuk Asesmen Kompetensi Mini­mum (AKM) dan Survei Kara­kter. “Sebagaian anggaran masuk kategori asesmen un­tuk persiapan AKM tahun de­pan,” tambahnya.

Ketua Umum Ika­tan Guru, Muhammad Ramli Rahim, menilai keputusan meniada­kan UN sudah tepat mengingat persiapan sangat minim aki­bat pembelajaran jarak jauh. Selain itu, siswa juga akan tergang­gu psikologis­nya jika UN tetap di­laksana­kan. “Siswa dan guru pun memiliki potensi yang sangat besar un­tuk tertular atau menularkan covid 19 ini,” ucapnya.

Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indo­nesia (FSGI), Satriwan Salim, menyebut alokasi anggaran UN sudah tepat. Dengan begi­tu anggaran tersebut bisa dia­lihkan untuk membantu pen­anganan penyebaran Covid-19. “Ini lebih bermanfaat, ketimbang dana dipakai un­tuk pelaksanaan UN yang ju­ga tak ada manfaatnya lagi ba­gi anak-anak,” paparnya.

Perlu diketahui, Tahun aja­ran 2019/2020 merupakan pe­nyelenggaraan UN terakhir. Se­bab, tahun depan UN sebagai tolok ukur dan pemetaan kual­itas pendidikan akan diganti AKM dan Survei Karakter. Na­diem mengatakan, dengan di­hapusnya UN sedikit meng­hambat proses pemetaan kual­itas pendidikan. Meski begitu, dia sudah mengantongi data Programme for Internation­al Student Assessment (PISA) atau Program Asesmen Pelajar Internasional yang juga bisa di­jadikan tolok ukur.  ruf/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment