Koran Jakarta | August 19 2017
No Comments

Upaya Waligereja Memberantas Korupsi

Upaya Waligereja Memberantas Korupsi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Mencegah dan Memberantas Korupsi

Penulis : Konferensi Waligereja Indonesia

Penerbit : Obor

Cetakan : Mei, 2O17

ISBN : 978-979-565-793-4

Di Indonesia, setiap saat berita tentang korupsi disajikan media. Beberapa koruptor yang sudah dipenjara tidak membuat koruptor lain jera. Indonesi masih sulit keluar dari jerat budaya korupsi. Di tingkat regional, Indonesia tertinggal dari Vietnam, Thailand, dan Filipina dalam variabel ketiadaan korupsi.

Korupsi tidak hanya menggerogoti institusi negara, tapi juga menyusup ke dalam dunia bisnis dan lembaga agama. Fenomena demikian menunjukkan betapa masyarakat Indonesia berada dalam kubangan korupsi. Sebab itu, Sidang Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tahun 2016 diawali dengan studi para uskup untuk membedah dan mencegah mentalitas serta perilaku koruptif (hlm 1).

Ada tiga hal yang menjadi sasaran studi tersebut. Pertama, membangun sistem administrasi dan penatalayanan publik yang mampu menghilangkan mentalitas serta perilaku koruptif. Kedua, membangun budaya antikorupsi melalui pendidikan. Ketiga, menciptakan dan memperbanyak gerakan antikorupsi di kalangan umat Katolik dan masyarakat luas (hlm 3).

Inisiatif studi tersebut tidak hanya berangkat dari keprihatinan Waligereja terhadap kondisi bangsa, namun juga didorong oleh nilai-nilai agama yang mereka yakini. Dalam Alkitab dijelaskan betapa terlarangnya praktik korupsi. Alkitab melarang mencuri (Mrk. 10:19). Tidak boleh menerima suap (Kel 23:8).

Santo Paulus mengingatkan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan. Yesus dengan tegas mengatakan Allah sudah menjamin hidup hamba-Nya. Jika ada hasrat berkorupsi, ingat pula nasihat Santo Yohanes, “Jangan merampas dan jangan memeras. Cukuplah dirimu dengan gajimu (hlm 15).”

Paus Fransiskus mengibaratkan korupsi seperti kuburan. Dari luar tampak indah dengan cat mengilap, tapi di dalamnya tersimpan daging yang membusuk. “Seorang Kristen yang korupsi bukanlah Kristen,” kata Paus Fransiskus (hlm 17).

Studi intensif yang dilakukan para uskup menghasilkan nota pastoral tentang cara fundamental memberantas korupsi, di antaranya pembentukan karakter lewat pendidikan keluarga dan sekolah. Jika setiap orang sejak kecil tumbuh dengan mental bagus, dia tidak akan mudah tergoda untuk melakukan tindakan amoral yang menyalahi prinsip hidupnya.

Di tingkat keluarga, sejak awal harus ditanamkan kejujuran dan keterbukaan. Jujur tentang pendapatan, saling terbuka tentang segala persoalan. Tidak ada yang disembunyikan antara anak dan orang tua. Di samping itu, penting menumbuhkan hidup ugahari, yaitu gaya hidup seimbang antara belanja dan penghasilan. Jika pendapatan tinggi, hidup harus tetap sewajarnya, sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak jatuh pada pola hidup konsumtif (hlm 23).

Hidup konsumtif merupakan motif kuat korupsi. Iklan adalah garda depan hidup konsumtif. Belanja menjadi identitas diri. Padahal Alkitab mengingatkan, “Hendaklah kamu berbela rasa, sama seperti Bapamu berbela rasa (bdk Luk 6:36).” Identitas umat yang ideal bukan belanja, namun berbela rasa (hlm 25).

Keluarga juga dibentuk sebagai “sekolah iman”. Setiap anggota keluarga diminta untuk memimpin doa, saling berbagi pengalaman religius dan merenungi nilai-nilai kitab suci. Umat senantiasa ikut acara keagamaan. Dengan demikian, kedekatan anak dengan Allah semakin kuat (hlm 27).

Di sekolah, pembentukan mental antikorupsi dimulai sejak memilih sekolah. Jangan sampai memasukkan anak ke sekolah dengan jalan pintas demi meraih gengsi mendapat sekolah berkelas. Ini berakibat buruk terhadap mental anak. Dia akan menganggap jalan pintas itu benar. Jika kemampuan anak tidak sesuai dengan level sekolah, justru akan menjadi beban mental yang merusak. 

Diresensi Lailatul Qadariyah, alumna Universitas Trunojoyo Bangkalan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment