Validasi Identitas untuk Cegah Kejahatan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Keamanan Data

Validasi Identitas untuk Cegah Kejahatan

Validasi Identitas untuk Cegah Kejahatan

Foto : ist
A   A   A   Pengaturan Font

Di tengah maraknya uang elektronik dalam bentuk dompet digital, salah satu yang perlu dipastikan adalah dari sisi keamanan. Jangan sampai dompet digital tersebut digunakan untuk tindak kejahatan, seperti pencucian uang, pendanaan terorisme, dan aksi kejahatan lainya

Pemerintah sendiri sedang mewajibkan agar Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran selain Bank juga patuh pada aturan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APUPPT) yang telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.

Untuk antisipasi kejahatan pengguna uang elektronik maka perlu verifikasi dan validasi data dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri. Data Dukcapil bersifat tunggal berdasarkan nomor nomor induk kependudukan pada Nomor Induk Kependudukan di KTP elektronik dan Kartu Identitas Anak (KIA).

“Kalau penggunanya meninggal NIK ikut meninggal. Jadi tidak akan ada NIK yang dobel,” ujar Zudan Arif Fakrulloh, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Jakarta Jumat (17/1).

Menurut Data Dukcapil per 30 Juni 2019 jumlah penduduk Indonesia mencapai 266.534.836. Dari jumlah tersebut yang wajib memiliki KTP sebanyak 193.365.749 , mereka mayoritas telah memiliki KTP elektronik. Hanya sebanyak 2.365.154 yang belum memiliki KTP elektronik.  Selain verifikasi dan validasi dengan mencocokkan dengan NIK, proses pencocokkan data pengguna dompet digital dengan data biometrik seperti foto, sidik jari, dan iris mata.

Dengan cara ini maka keamanan transaksi menjadi lebih kuat. Manfaat validasi dan verifikasi lainnya bagi pengguna dompet digital adalah meningkatkan layanan kepada pengguna. Misalnya jika saat ini saldo maksimum dompet Digital Linkaja dibatasi hanya sebesar 2 juta maka setelah validasi dan verifikasi saldonya bisa ditingkatkan menjadi 10 juta rupiah.

Dalam meningkatkan layanan, Linkaja menggandeng Ducapil, membuat layanan elektronik Know Your Customer (e-KYC). Dengan e-KYC, layanan dompet digital tersebut secara otomatis memvalidasi data pengguna tidak hanya dari pengenalan foto pengguna yang disesuaikan dengan foto Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik, dan juga data biometrik.

Direktur Operasi LinkAja Haryati Lawidjaja, mengatakan, “Kami sangat berterima kasih kepada Ditjen Dukcapil, karena melalui kerja sama ini LinkAja akan mendapatkan hak akses atas data kependudukan yang dimiliki,” ujar dia. Proses validasi e-KYC berguna untuk meningkatkan akun layanannya menjadi Full Service.

Melalui e-KYC yang diverifikasi oleh Ditjen Dukcapil, pengguna LinkAja dapat memperoleh manfaat maksimal seperti saldo maksimum yang lebih tinggi juga keleluasaan transaksi seperti transfer dana dan penarikan tunai. Chief Marketing Officer LinkAja Edward K Suwignjo, menyebutkan transaksi uang elektronik LinkAja akan mendorong peningkatakan status pengguna dari layanan dasar (basic service) ke layanan penuh (full service).

“Dengan kerja sama ini bisa verfikasi dilakukan hanya dalam hitungan menit, padahal sebelumnya verifikasi secara manual butuh waktu 1x 24 jam,” ujar Edward. Edward mengatakan hingga 2019 lalu, setiap bulan terjadi pertumbuhan pengguna aktif sebanyak 5,1 kali lipat di platform LinkAja. Dari sisi nilai transaksi tumbuh 4,7 kali lipat setiap bulan.

Tak hanya itu, LinkAja saat ini mencatat terdapat lebih dari 40 juta pengguna. hay/R-2 Earphone Berteknologi AIoT Kombinasi antara internet of things (IoT) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melahirkan istilah baru yaitu Artificial Intelligence of Things (AIoT).

Dengan menggabungkan AI dan IoT, obyek yang terhubung berubah dari sensor pasif menjadi mesin pembelajaran data. IoT mendapatkan manfaat dari kemampuan analisis data lanjutan AI, sedangkan aplikasi AI menerima informasi secara seketika (realtime) dari jaringan yang luas.

Tanpa AI, data yang bersirkulasi dalam IoT tidak dapat mencapai potensi penuhnya. AIoT melahirkan perangkat pintar yang mampu belajar sendiri. Ia dapat belajar dari data masuk, dan mempelajari preferensi pengguna dari riwayat perilaku yang tersimpan dan menampilkan saran bagi penggunanya.

Salah satu perangkat yang menggunakan teknologi AIoT adalah Realme Buds Air yang diluncurkan pada 15 Januari 2020 di Jakarta. Earphones nirkabel terpisah ini menjadi produk AIoT pertama dari Realme untuk membuka era AIoT.

Marketing Director Realme Indonesia, Palson Yi menjelaskan, berdasarkan riset pasar dan kebutuhan pelanggan, Realme telah berhasil memperkenalkan true wireless earphones pertamanya dan dalam waktu singkat produk tersebut sukses besar di pasar India.

“Berdasarkan berbagai riset yang telah dilakukan di Indonesia, Realme akhirnya memperkenalkan Realme Buds Air pada bulan pertama tahun 2020. Realme Buds Air menawarkan kebebasan pengguna dan pengalaman tanpa batas untuk menikmati musik secara real,” ujar dia. Dengan desain ergonomis Realme Buds Air, kinerja baterai yang lebih baik, dan kontrol cerdas, perangkat ini menawarkan lompatan dengan perangkat keras premium AIoT.

Dayanya dapat diisi secara nirkabel melalui charging pad berdaya 10W atau melalui pengisi daya USB-C, dengan ketahanan baterai hingga 17 jam. Transfer data dari ponsel pemutar cukup cepat dengan super low latency berkat chip khusus yang telah disesuaikan.

“Chip yang telah disesuaikan ini akan membawa generasi baru teknologi koneksi real-time dengan dual-channel yang secara signifikan mengurangi latensi suara dari perangkat ke realme Buds Air,” tambah Palson Yi. Produk yang dibanderol pada harga 599 ribu rupiah tersebut dilengkapi dengan teknologi dual mikrofon ENC (Environment Noise Cancelling) untuk mengidentifikasi setiap kata dan menyaring semua suara bising di latar belakang secara cerdas.

Buds Air dapat mengenali dan menghubungkan ke smartphone pengguna secara instan, dengan menggunakan sensor optik presisi tinggi yang memungkinkannya memutar musik secara otomatis saat diselipkan di telinga dan pause secara otomatis saat dilepas.

Suara bass dari Buds Air cukup menggelegar tanpa mengorbankan richness dan fidelity suara dengan diafragma komposit multi-layer canggih LCP dan driver suara 12mm yang besar. Alat ini dilengkapi dengan solusi DBB (Dynamic Bass Boost) khusus melalui Bluetooth 5.0, untuk efek bass yang dinamis. hay/R-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment